Terpanggil

Terpanggil

Masih perlu penguatan perjuangan ekstra, di parlemen ataupun forum lain. Itulah keberadaan perempuan Indonesia, dari era kolonial hingga kini, meski sudah memasuki masa merdeka dan modern. Bahkan, meskipun tak sedikit kaum Hawa sudah merasakan manisnya buah perkembangan zaman sekarang. Meski demikian, di antara mereka masih merasakan juga panorama ketidakadilan perlakuan dalam berbagai panggung hanya karena masalah perbedaan gender. Pemandangan ketidakadilan kian menampak jika sorot mata kita tertuju ke lapisan kaum Hawa di berbagai daerah, di sentra perkotaan ataupun pedesaan, apalagi lapisan bawah.

“Itulah kondisi yang sungguh memprihatinkan”, ujar Anita Aryani, puteri asli kelahiran Semarang, 1965, aktivis perempuan sekaligus kader Partai Gerindra sembari menegaskan bahwa nasib kaum prempuan Indonesia masih perlu diperjuangkan lebih jauh. Bukan sekedar kesetaraan gender, tapi keadilan, dalam kaitan sosial-budaya, sampai ke persoalan ekonomi dan politik. Meski di antara kaum perempuan – sekali lagi – sudah cukup banyak memasuki “kerajaan” ekonomi dan politik, tapi masih tetap terlihat diskriminasi itu.

Makanya – lanjut Ketua Bidang Pemberdayaan Prempuan DPP Partai Gerindra dan Dewan Penasehat PP Perempuan Indonesia Raya (PIRA) ini – masih tetap diperlukan gerakan keberpihakan pro perempuan. Urgensinya kian penting, terutama menyangkut kepentingan kaum perempuan lapis bawah yang memprihatinkan. Banyak fakta sosial bicara di berbagai sentra, sering terjadi kekerasan rumah tangga, pelecehan seksual (pemerkosaan) tanpa mengenal batasan usia, eksploitase kaum perempuan dalam bentuk paksaan menjadi pekerja seks komersial, perdagangan manusia dengan obyek perempuan dengan iming-iming bekerja di luar negeri sampai ke persoalan tenaga kerja wanita di negeri orang, secara legal araupun ilegal.

“Semua itu merupakan potret sosial kaum perempuan yang menyayat hati”, ujar Anita, yang kini siap berjuang di gelanggang DPRD Provinsi Jawa Tengah sebagai caleg No. 2 dari Partai Gerindra dengan daerah pemilihan Pemalang, Pekalongan dan Batang (atau dikenal dengan Dapil Jateng XIII). Untuk hadapi persoalan potret buram kaum  perempuan itu, maka diperlukan perjuangan di parlemen sehingga dapat merancang kebijakan yang mendorong proses perbaikan nasib kaum perempuan. Bentuk konkretnya adalah program sosial, pemberdayaan ekonomi dan pendidikan (pembangunan mental). Program-program itu harus mampu menyasar kaum ibu rumah tangga, kalangan janda dan anak-anak perempuan yang masih belajar.

Program pro kaum perempuan itu – tambah Wakil Ketua Umum Bidang OKK DPP Wanita Tani HKTI dan Ketua Bidang Lingkungan Hidup DPN HKTI ini – insya Allah akan kuperjuangkan dan kukawal sampai ke tingkat realisasi. Karena itu perlu dukungan masyarakat luas bagaimana saya bisa mewujudkan cita-cita memperbaiki nasib kaum perempuan di berbagai sektor. Di sinilah pentingnya kebersamaan. Proses awal memberikan suara untuk Anita Aryani, nomor urut 2 dari Partai Gerindra. Modal politik yang sampai ke parlemen menjadi amanat untuk diperjuangkan lebih jauh pro nasib perempuan. Dengan  konsep kebersamaan ini, maka kita saling beri dan saling mengawasi atau saling mengingatkan. Sikap saling ini – insya Allah – menjadi unsur kimiawi yang menguatkan soliditas dan harmonitas. Inilah tekad yang memanggil dirinya ke gelanggang DPRD Provinsi Jateng. Bismillah, saya hadir di tengah parlemen, siap mengemban amanat mulia itu, ujar Dra. Anita Ariyani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *